Prodi Sastra Inggris UIN Sutha Jambi sukses menyelenggarakan webinar nasional yang bekerjasama dengan Prodi Sastra Inggris UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dengan judul “dialog antara humaniora dan teknologi”. Webinar ini membahas mengenai dampak maraknya perkembangan teknologi dalam hal ini diwakili oleh AI terhadap daya kritis mahasiswa dalam proses pengapresiasian karya dan proses penciptaan karya tulis. Acara ini dilaksanakan pada hari Rabu 7 Mei 2025 secara daring.

Acara ini diikuti oleh 135 peserta yang berasal dari berbagai perguruan tinggi yaitu UIN Jambi, UIN Jakarta, Universitas Muaro Bungo dan Universitas lainnya. Webinar ini menampilkan tiga orang narasumber yaitu Bahren SS., MA, Dr. M. Agus Suriadi, M.Hum, dan Ida Rosida M.Hum.
Acara dibuka oleh Dekan Fakultas Adab dan Humaniora Dr Dian Mursyidah M.Ag. Dalam sambutannya, Dekan menyampaikan mengenai fenomena maraknya penggunaan AI yang mempermudah sekaligus menimbulkan tantangan baru bagi penggunanya terutama di kalangan akademis.

Narasumber pertama yaitu Bahren SS, M.A yang merupakan dosen sastra inggris UIN Jambi sekaligus mahasiswa PhD Western Sydney University menjelaskan mengenai tantangan sekaligus keuntungan dalam penggunaan AI. Ada etika yang harus dipegang dalam penggunaan teknologi ini agar daya kritis mahasiswa tidak menjadi tumpul. Dosen juga harus mengembangkan kemampuan mahasiswa dengan tidak hanya mengajukan pertanyaan seperti apa, bagaimana dan mengapa lagi, tapi harus mampu menjangkau daya kritis mahasiswa.

Narasumber kedua yaitu Dr. M. Agus Suriadi, M.Hum berasal dari sastra inggris UIN Jakarta. Beliau memaparkan tantangan penggunaan AI dalam ilmu penerjemahan. Bagaimana alat ini bisa membantu mahasiswa dalam pengerjaan penerjemahan sekaligus kelemahan AI dalam hal ini yang berkaitan dengan hilangnya rasa dan konteks yang memadai.

Narasumber ketiga yaitu Ida Rosida M.Hum secara menarik menjelaskan mengenai presentasi gender melalui robot wanita dalam dua film. Dalam pemaparannya dijelaskan bahwa meskipun teknologi telah menyentuh aspek robotik, namun peran dan fungsi gender yang melekat pada robot wanita masih terlihat konvensional dengan menerapkan robot wanita sebagai sosok seksual.

Webinar ini berjalan dengan lancar dan dilanjutkan dengan sesi tanya jawab dari peserta. Minat dan antusiasme peserta terlihat dengan jelas hingga akhir acara. Diharapkan kegiatan ini mampu menambah wawasan dan membuka ruang diskursus mengenai fenomena terkini di masyarakat dan kaitannya dengan dunia akademis.
